What It Means: Itikaf

0


    Hari itu ramai sekali, orang-orang berbondong memasuki masjid untuk melaksanakan salat Isya yang kemudian dilanjutkan dengan salat tarawih. Masjid kali ini adalah masjid yang cukup terkenal di daerah Bintaro. Terlebih, kalau sedang mengalami "gabut" aku suka berkunjung ke sini; kadang menumpang minum, tidur-tiduran di pelataran masjid, kadang meminjam beberapa buku untuk dibaca. Di antara semua bulan, aku paling suka bulan Ramadan. Jika sebelum-sebelumnya malam selalu terasa dingin dan sepi, tapi saat bulan Ramadan malam jadi terasa lebih hidup dan ramai. 


    Saat aku masuk ke dalam masjid, keadaan sudah sangat ramai. Laki-laki bertempat di ruang salat utama dan selasar kiri masjid, sementara perempuan bertempat di basement dan selasar kanan masjid. Aku tidak mendapatkan tempat di basement sehingga aku akhirnya duduk di selasar kiri. Selasar kiri adalah tempat yang sebenarnya dikhususkan untuk para ibu yang membawa anak, namun untungnya mereka tidak membatasi untuk orang-orang single sepertiku. Sejujurnya aku sudah sempat ke sini sehari sebelumnya untuk mengecek tempat, tapi kegiatan itikaf baru dibuka hari ini sehingga kemarin aku hanya mampir sebentar saja untuk salat.


    Masjidnya bersih, DKMnya aktif, banyak kegiatan serta ramai jamaah setiap harinya. Jika saat bulan lain saja banyak, maka jamaah bulan ramadan tentu pastilah lebih banyak, contohnya seperti sekarang. Setelah salat aku memutuskan untuk jalan sebentar di sekitar sini. Sudah lama sekali aku tidak jalan kaki malam-malam di luar. Selain karena tidak diizinkan, aku juga sedang tidak minat night walking tanpa tujuan. Kali ini aku mencoba mengunjungi distrik belanja yang berada di dekat masjid. Jalan beberapa menit, lalu menyebrang sedikit untuk sampai. Tempat tersebut masih buka hingga jam 10 malam, sehingga saat aku ke sana masih ada beberapa toko yang buka. Memang, pada akhirnya aku hanya membeli air mineral. Tapi dari awal niatku memang jalan-jalan, hehe. Meski aku sering ke sini, tapi ini pertama kalinya aku jalan keliling tempat ini malam-malam.


    Sebelum masuk ke masjid, aku membeli beberapa donat terlebih dahulu. Namanya donat bahagia, dan ini adalah donat kesukaanku. Donatnya empuk, toppingnya banyak, tempatnya nyaman, dan petugasnya ramah. Aku membeli 2 rasa donat favoritku: coklat dan matcha. Donat bahagia selalu enak, termasuk hari itu. Awalnya aku ingin membeli untuk dimakan di masjid, tapi sayangnya karena tidak boleh makan di dalam jadinya aku memutuskan untuk makan langsung di toko donatnya saja. 


    Aku suka sekali malam ini, aku suka sekali suasananya. Bukan hanya tentang mengejar lailatul qadr, tapi aku memang suka vibesnya. Jika aku dapat mengekspresikan rasanya, mungkin seperti ungkapan "Dear God, this is my world." Begitulah, jika kita merasa sangat nyaman di sebuah tempat dan lingkungan, baru sebentar saja rasanya sudah sangat familiar. Aku memang memiliki kecenderungan menyukai tempat-tempat tenang: perpustakaan, masjid, cafe, dan taman. Kalau aku sedang jalan-jalan, aku refleks akan mencari keempat tempat ini. 


    Senang sekali rasanya melihat di 10 terakhir ini banyak orang berlomba-lomba dalam kebaikan. Selain mendapat makan sahur, aku juga mendapat kopi dan kue sebagai camilan. Aku juga berkenalan dengan beberapa orang. Salah satunya adalah seorang ibu-ibu yang tinggal di dekat sana. Beliau tidak menginap, sehingga kami hanya bertemu saat qiyamul lail saja. Ibu tersebut bertanya, "kamu besok ke sini lagi?." Aku menjawab, "kayanya iya." Dear ibu, aku sangat sangat ingin balik ke sana, tapi sayangnya Allah punya rencana lain untukku :)


Di Antara Shaf dan Sujud: Sebuah Pertemuan Paling Sunyi


    Ada satu hal paling menarik yang aku rasakan selama salat, yakni kesunyian. Aku membayangkan  bagaimana bisa masjid seramai itu seketika sunyi saat salat. Sunyi di sini bukan hanya karena semua orang fokus salat, tapi sunyi dalam arti bumi terasa seperti berhenti sejenak. Kita semua datang ke masjid untuk melaksanakan ibadah salat. Kita semua datang dengan cerita dan ujian masing-masing. Kita semua berkumpul di satu tempat bernama masjid. Kita semua berdiri dan berjajar membentuk shaf-shaf yang rapat. Ruangan tersebut ramai, ruangan tersebut sangat hidup, namun ketika "Allahu Akbar" diucapkan; keramaian tersebut seketika sirna. Allahu Akbar, sebuah ucapan tanda dimulainya salat; dimulainya pertemuan paling sunyi antara hamba dan Tuhannya. Kita semua sejatinya hadir di sana: di tempat yang sama, dan di waktu yang sama persisnya. Meski kaki kita satu sama lain terpaut dalam sebuah shaf, uniknya kita semua merasa sendiri. 


    Bagiku pribadi, salat itu ibarat seperti tombol "pause," pemisah sementara dari riuhnya dunia. Di dalam sunyinya sujud, aku menyadari bahwa kita semua sejatinya adalah seorang musafir yang sedang mengetuk pintu yang sama. Saat salat, kita semua sama. Sebanyak apa pun harta yang kita bawa, setinggi apa pun pendidikan yang kita miliki, bagi Allah semuanya sama. Allah tidak sedang membandingkan siapa yang paling megah tampilannya, melainkan sedang membaca setiap detak ketulusan yang kita bawa. Kita semua, dengan segala kelebihan dan kerapuhan masing-masing, sedang merunduk untuk satu alasan yang sama: mencari rida-Nya. 


    Saat kecil, aku seringkali heran dengan orang-orang dewasa yang kerap terbawa suasana dan menangis saat salat. Bukankah bacaan salat adalah bacaan yang sudah ditetapkan? bukankah gerakan salat adalah gerakan yang sudah ada aturannya? Ya, anak kecil dengan segala keterbatasannya. Setelah tumbuh dewasa, dan setelah mengalami pendewasaan, aku akhirnya mengerti; dan aku menjadi orang dewasa yang mungkin membuat anak kecil terheran-heran juga. 


    Di dunia ini ada banyak sekali hal kelu yang tidak mampu aku ucapkan. Banyak sekali keluh kesah yang ingin aku bagi. Dan yang paling penting, aku sadar bahwa sudah terlampau banyak kesalahan dan dosa yang sudah aku buat. Aku memiliki banyak sekali keinginan dan hal yang ingin aku capai, tapi ternyata ketika salat hanya ampunan saja yang mampu aku ucapkan. Sepanjang salat, aku hanya sanggup meminta maaf dan ampunan. Lagi-lagi, dan berulang kali, aku meminta ampun atas segala kesalahanku. 


    Allah itu sejatinya Maha Tahu Atas Segala Isi Hati, namun di satu sisi Allah juga sangat menyukai hamba-hamba-Nya yang senantiasa berdoa dan berharap kepada-Nya. Aku pelan-pelan memperbaiki hubunganku dengan Allah yang sudah sangat jauh itu. 11 Rakaat, dan aku hanya sanggup meminta ampun. Ya Allah ampunilah aku, Ya Allah maafkanlah aku, Ya Allah lembutkanlah hatiku, Ya Allah tuntun aku ke jalan yang diridai oleh-Mu, perbaikilah hidupku, berkahilah aku, mudahkan urusanku, dan jadikan aku sebagai penghuni surga yang Engkau janjikan tersebut.


    Salat di bulan ramadan itu jauh berkali-kali lipat nikmatnya. Saat bulan Ramadan, aku merasa seperti disayang oleh Allah. Banyak sekali keutamaan yang Allah yang janjikan dan berikan di bulan ini. Seperti gurun pasir yang merindukan kehadiran oase, aku sangat sangat membutuhkan bulan Ramadan untuk kesehatan jiwaku. Dari semua bulan yang ada, aku paling suka bulan Ramadan. 


Ketika Logika Menemukan Tuan-Nya


    Sudah terlalu lama aku menaruh hatiku pada dunia, sudah terlalu lama aku menaruh fokusku pada hal yang salah. Di antara barisan rencana yang ambisius tersebut, aku seringkali lupa bahwa sebagai manusia aku tetaplah makhluk yang memiliki banyak sekali batas dan ketidakmampuan. Itikaf adalah momen di mana aku akhirnya berhenti berdalih, momen ketika aku tunduk setunduk-tunduknya kepada Pencipta sebenarnya. Aku menanggalkan semua jubah duniawi yang aku banggakan tersebut dan membiarkan rencana-rencana yang berantakan itu tumpah begitu saja di atas sajadah.


   Ternyata, puncak dari segala pengetahuan adalah mengakui bahwa aku tidak tahu apa-apa, dan kehebatan sejati adalah saat aku berani merendah paling dalam di hadapan Allah. Ilmu yang kukejar setinggi langit hanya akan menjadi kesombongan yang menjulang jika ia tidak membawaku kembali menapak bumi Allah. Di atas sajadah, aku hanyalah seorang hamba yang sedang mencari jalan pulang ke fitrah-Nya. Aku sering melayangkan protesku tentang pintu-pintu yang belum terbuka, tentang kelulusan yang sebelumnya tertunda, atau tentang masa depan yang masih berupa kabut tersebut. Aku sibuk menuntut hasil yang sempurna, namun abai pada niat yang mungkin sudah mulai berkarat. Malam-malam ini memaksaku untuk berhenti berhitung dengan Tuhan. Aku ingin membasuh adabku terlebih dahulu, sebelum kembali menyentuh ilmuku. Aku ingin memastikan bahwa setiap langkahku nanti bukan untuk sebuah panggung validasi manusia, melainkan untuk sebuah tanggung jawab yang jujur di hadapan Allah. 


    Hidup ternyata bukan tentang seberapa hebat aku merancang skenario, tapi seberapa ikhlas aku menjadi bagian dari skenario-Nya. Aku belajar bahwa di balik keterbatasanku sebagai manusia, ada ketetapan Allah yang jauh lebih baik dan indah. Tidak ada lagi debat logika yang melelahkan, tidak ada lagi ketakutan akan hari esok yang buram. Di sisa malam yang sunyi ini, hanya ada satu frekuensi: Kami dengar, dan kami taat. Bersyukur atas segala tempaan ini adalah untuk ketenangan jiwaku sendiri, linafsihi. Aku pulang pada-Nya, agar aku bisa menemukan diriku kembali yang sebelumnya sempat jauh dan hilang.


    Malam ini tidak memberiku jawaban instan atas semua tanya, tapi ia memberiku ketenangan untuk menerima ketidakpastian, ia memberiku ruang untuk bernapas. Terima kasih untuk malam-malam yang memaksaku jujur pada diri sendiri. Ternyata, mengakui kerapuhan di hadapan Tuhan adalah cara terbaik untuk merasa utuh kembali.


فَسَتَذْكُرُوْنَ مَآ اَقُوْلُ لَكُمْۗ وَاُفَوِّضُ اَمْرِيْٓ اِلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ بَصِيْرٌ ۢ بِالْعِبَادِ ۝٤٤


"Kelak kamu akan mengingat apa yang kukatakan kepadamu. Aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya."


(Ghafir: 44)

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)