Re-parenting Myself

0


    Aku sudah memutuskan bahwa hal yang akan aku pelajari di tahun ini adalah re-parenting. Setelah bertemu banyak orang dan melihat banyak versi dari kehidupan orang-orang, aku menemukan 1 hal menarik: wounded child. Di hidup ini, ternyata ada banyak orang yang terlihat "sudah" dewasa namun sebenarnya mereka membawa luka yang belum sempat disembuhkan. Luka ini memiliki banyak ragam dan bentuk; ada yang berbentuk trauma, kekecewaan, ketiadaan pengasuhan, hingga amarah yang menumpuk. Itu semua ditumpuk, dan terakumulasikan menjadi luka yang tidak sempat terselesaikan. Mereka semua menua, namun tidak dewasa. 


    Banyak orang mengatakan kalau menjadi dewasa itu pilihan, dan itu benar adanya. Tidak semua orang mau menurunkan ego, tidak semua orang mau menghadapi hal-hal yang sulit dan merepotkan, tidak semua orang berani mengubah dirinya. Bisa dibilang, aku cukup beruntung karena mau mengakui kesalahan dan memperbaiki diri, in a harsh way. Terbiasa hidup sendiri, aku mengakui kekurangan aku sebagai orang yang tidak memiliki inisiatif dan bahkan minim ethics. Kenapa baru membahasnya sekarang? karena umurku sudah 25. Otak sudah siap, dan mentalku sekarang juga sudah lebih secure. Mulai umur 25, segala keputusan dan perilaku yang diambil itu seharusnya sudah mulai didasari oleh diri sendiri. Dalam hidup ini, memang banyak juga kesalahan yang dilakukan orang lain yang bisa jadi menghambat atau bahkan mengacaukan hidup kita. Tapi di satu sisi jika sudah mencapai umur 25 maka itu semua berada di bawah kendali kita. Mau terus-terusan menyalahkan lingkungan? tapi kita sudah bisa mengambil sikap sendiri. Mau menyalahkan orang lain? tapi kita sudah bisa melangkah sendiri. Perilaku kita adalah tanggung jawab kita, terlepas dari luka dan pengalaman yang dimiliki dan pernah dialami. Orang lain itu sejatinya berada di luar kuasa kita. Apalagi jika kita sudah tahu bahwa kita berada di lingkungan yang toxic maka istilahnya apa yang diharapkan? ujung-ujungnya hanya menguras mental saja. 


    Lawan kata dari cinta itu sebenarnya bukan benci, tapi tidak peduli. Ketika orang-orang sudah memutuskan untuk tidak peduli lagi dengan diri kita maka sebenarnya itu adalah titik puncak rasa muak mereka. Sebagai manusia aku juga sadar bahwa di hidup ini aku membuat banyak kesalahan dan bahkan banyak membuat malu. Tapi sekarang kembali lagi, apakah aku akan terus seperti itu atau tidak? Kalau tidak ingin kembali ke titik awal maka aku harus sadar se-sadar-sadarnya dan mendidik kembali diriku.


    Sebelum mendidik, memang sudah seharusnya terlebih dahulu kita menjadi terdidik. Mendidik itu memiliki arti mengasuh diri sendiri. Sebelum nantinya menjadi orang tua, pertama-tama aku harus menjadi orang tua bagi diriku. Aku menemukan pola menarik ketika melihat orang yang cenderung tidak stabil dan penuh amarah. Ketika ditelusuri ternyata mereka memiliki pengalaman dan luka yang terus disimpan dan dipendam sendiri. Dalam hidup, kita pasti akan mengalami kejadian tidak menyenangkan. Tapi masalah baru muncul jika sampai dewasa kita tidak bisa mengobati hal tersebut dan berujung menyusahkan dan menyakiti orang lain. Jujur saja, aku tidak ingin menjadi orang yang dianggap mengganggu, aku tidak ingin menjadi racun bagi orang-orang terdekatku. Hal yang kemudian mendasari re-parenting ini adalah karena aku ingin kehadiranku menjadi kebahagiaan, kemudahan, dan kebermanfaatan bagi orang-orang sekitar. Aku tidak ingin traumaku menyusahkan orang lain, aku tidak ingin rasa sakitku malah berlanjut menyakiti anak-anakku kelak, aku juga tidak ingin amarahku nantinya melukai pasanganku sendiri. Untuk itu, aku membenahi semua yang ada di diriku. Hal yang menurut orang lain sulit, tidak mengenakkan, dan susah tersebut aku lakukan; semuanya demi diriku dan orang-orang yang telah aku sayangi dan akan aku sayangi nantinya.


    Umur 25 memang usia yang krusial, karena inilah fase peralihan menjadi seorang manusia yang dewasa dan utuh. Aku harus kuat, dan aku harus semangat. Jika aku berhasil melewati fase ini, maka kedepannya juga akan lebih mudah. Aku lebih mengenal diriku, dan aku juga tahu bagaimana harus bertindak. Victim mentality itu harus dihapus, karena sekarang aku adalah manusia dewasa yang bertanggung jawab penuh atas keputusan hidupku sendiri. Hadiah terbaik yang bisa diberikan kepada diri sendiri itu sesungguhnya adalah kedewasaan; sebuah kedewasaan yang melahirkan ketenangan, kemudahan, dan kelegaan.


    Lantas, bagaimana memulainya? re-parenting adalah tentang membangun dialog internal yang baru, dan praktiknya dimulai dari validasi. Aku menemukan hal menarik yang mendasari kenapa ada banyak orang terlihat "keras" dan "tidak jelas." Setelah diamati, mereka semua ternyata denial, mengelak terhadap kondisi hingga perasaan yang dimiliki. Mengakui ketidakberdayaan itu sulit, mengakui kekurangan itu memang tidak enak, tapi di sanalah masalah muncul. Dengan terus-terusan mengelak, kita semakin jauh dari solusi. Kita hanya akan terus berputar-putar di titik yang sama. Karena apa? karena kita tidak mau sadar, kita terus merasa mampu, membuat ilusi bahwa semua baik-baik saja. Aku bisa menulis seperti ini juga karena pada akhirnya aku memvalidasi perasaanku. Dulu, ketika sedih atau kecewa, refleks pertamaku adalah sebuah penyangkalan, "Ah, gini doang nangis, lemah banget." Sekarang, aku belajar untuk membersamai perasaan tersebut. Semua rasa takut, malu, kecewa, marah, sedih aku terima semua, aku menerima semua takdirku, dan aku belajar untuk duduk bersama dengan perasaan itu. Sebuah mantra, "linafsihi," bahwa perasaan tersebut nyata, boleh ada, dan sudah terjadi, aku melakukan semuanya untuk diriku. Tapi, validasi juga tidak sama dengan membiarkan perasaan itu menyetir perilaku. Aku boleh merasa marah, aku boleh memiliki kekecewaan. Tapi aku, sebagai orang yang telah dewasa juga harus memutuskan untuk tidak membanting, memantulkan semua perasaan tersebut dan berakhir melukai orang lain. Di sinilah letak kedewasaan tumbuh: memberi ruang antara emosi yang dirasakan dan respon yang dikeluarkan. Aku tidak membiarkan perilaku buruk tersebut merembet keluar dan mempengaruhi kinerjaku karena pada dasarnya itu adalah tanggung jawabku.


    Selanjutnya, re-parenting bagiku adalah tentang disiplin yang penuh kasih sayang. Menjadi orang tua bagi diri sendiri berarti harus tega melakukan hal-hal yang sulit demi kebaikan jangka panjang. Sama seperti orang tua yang menyuruh anaknya sikat gigi bukan karena ingin menyiksa, tapi karena peduli pada kesehatan giginya. Aku mulai belajar membedakan antara "menghukum diri" dan "mendisiplinkan diri". Menghukum itu fokus pada rasa bersalah di masa lalu, "Bodoh banget sih tadi ngomong kaya gitu," sedangkan mendisiplinkan itu fokus pada perbaikan di masa depan "Oke, tadi mungkin terlalu impulsif. Besok jangan seperti itu lagi." Bedanya mungkin tidak terlalu kontras, tapi dampaknya untuk mental sangat besar.


    Perjalanan re-parenting ini tidak mudah. Akan ada hari di mana "luka lama" itu mengambil alih kemudi dan aku kembali melakukan kesalahan. Tapi di situlah ujian yang sesungguhnya: apakah aku akan memaki diriku lagi hingga hancur, atau aku akan merangkul diriku, memaafkan, dan menuntunnya kembali ke jalan yang benar? ini adalah ikhtiarku yang paling serius untuk memutus mata rantai tersebut. Oleh karena itu, aku ingin penuh dari dalam. Aku sedang membangun wadah kebahagiaan yang sumber airnya berasal dari diriku sendiri, bukan dari keran orang lain yang bisa tertutup sewaktu-waktu. Aku ingin mencapai titik di mana ketika aku memberi kasih sayang, perhatian, atau waktu, aku memberikannya karena kelimpahan, bukan karena transaksi. Aku memberi bukan agar aku dicintai balik, tapi karena aku memang memiliki begitu banyak cinta di dalam diri yang siap untuk dibagi. Cinta yang lahir dari kelimpahan adalah cinta yang membebaskan, sedangkan cinta yang lahir dari kekurangan adalah cinta yang mengikat dan menuntut. 


    Aku ingin hadir utuh, berdiri tegak di atas kakiku sendiri dan bukan sebagai seseorang yang pincang dan mencari tongkat penyangga. Aku ingin kelak, jika aku bersanding dengan seseorang, hubungan yang tercipta adalah pertemuan antara dua manusia dewasa yang sudah saling memahami diri sendiri. Dua orang utuh yang sepakat untuk berjalan beriringan, saling memperkaya perspektif, dan bertumbuh bersama tanpa saling membebani. Inilah definisi kedewasaan, serta visi hidup yang sedang aku tuju: menjadi manusia yang berdaya, otonom, namun tetap lembut dan penuh kasih.

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)