Gema Takbir mulai merayap di langit, memecah kesunyian yang selama tiga puluh hari ini menjadi "Rumah Aman" bagi jiwaku. Malam ini, tombol pause itu perlahan dilepaskan. Dunia yang bising akan kembali menuntut peranku, dan jubah-jubah duniawi yang sempat kutanggalkan di pelataran masjid harus kembali kukenakan. Suara Takbir malam ini tidak datang sebagai lagu kemenangan bagiku. Ia terdengar seperti sebuah deadline yang datang terlalu cepat. Di saat orang lain mungkin sudah merasa bahagia kembali, aku justru duduk di kamar dengan perasaan yang masih berantakan.
Aku seringkali merasa bersalah. Merasa bahwa sujudku kurang dalam, istigfarku kurang tulus, dan waktuku lebih banyak habis untuk berdebat dengan rasa lelahku sendiri. Namun, di tengah segala "ketidakmaksimalan" ini, aku belajar satu hal yang sangat berharga: Allah tidak sedang menungguku menjadi sempurna untuk menerima sujudku.
Di tengah ketidaksempurnaan itu, aku malah merasa "hidup." Aku merasa disayang. Aku merasa punya tempat untuk bersandar tanpa perlu merasa malu. Lalu sekarang, saat "Rumah Aman" ini akan berganti menjadi hiruk-pikuk dunia, aku merasa kehilangan pegangan. Aku tahu, aku tahu secara logika bahwa Allah akan selalu berada di sisiku. Engkau tidak pernah pergi. Tapi hatiku yang kecil ini tetap saja gemetar. Aku merasa seperti anak kecil yang baru belajar berjalan, lalu tiba-tiba tangan yang menuntunku harus dilepaskan di tengah keramaian. Aku takut kehilangan rasa 'lembut' ini. Aku takut hatiku kembali mengeras karena persoalan dunia yang tidak ada habisnya.
Mungkin Ramadan kali ini memang didesain untuk menjadikanku hamba yang benar-benar sadar akan kefakirannya. Allah sedang melihat usahaku untuk tetap berjalan meski kakiku pincang dengan segala permasalahan yang ada. Allah sedang menghargai air mataku yang jatuh karena malu merasa belum memberikan yang terbaik. Malam ini, aku menerima bahwa diriku adalah sebuah proses yang sedang berjalan; penuh bug, sering crash, tapi tetap berusaha untuk tidak berhenti berjalan.
Ya Allah, Sang Pemilik Detak Jantungku,
Jangan biarkan cahaya ini padam saat Ramadan-Mu berlalu. Jika esok aku kembali terjun ke dalam dunia yang rumit, tolong tetaplah menjadi pusat dari segala fokus dan tujuanku. Lembutkan hatiku untuk menerima takdir yang belum terbaca, dan teguhkan langkahku saat aku harus berjalan di atas duri-duri ketidakpastian. Untuk kedewasaanku, dan untuk kedamaian jiwaku. Aku menyerahkan sisanya pada-Mu, Ya Allah. Terima kasih telah menerimaku apa adanya, dengan segala keterbatasanku, dan dengan segala doa yang aku panjatkan ini. Aku pulang pada-Mu bukan sebagai pemenang, tapi sebagai musafir yang rindu akan rumah.
Kini, aku siap.
Aku siap melangkah keluar menuju gurun kehidupan yang sebenarnya. Aku membawa bekal berupa sujud-sujud yang sunyi dan rida yang sudah kutanam dalam-dalam. Tidak ada lagi ketakutan akan hari esok, karena aku tahu bahwa skenario-Mu jauh lebih indah daripada rencana-rencanaku. Tolong bantu aku, Ya Allah. Pantaskanlah aku atas segala impian yang aku punya, mudahkanlah jalanku. Jika kesuksesan yang kukejar itu justru menjauhkanku dari-Mu, maka bimbinglah aku. Tapi jika Engkau ridai, maka bukakanlah pintu-pintu yang selama ini terkunci rapat selebar-lebarnya. Pada akhirnya, aku hanyalah seorang musafir yang sedang belajar untuk terus memegang erat tali-Mu, meski tanganku terluka berkali-kali, bersusah payah dalam mempertahankannya. Karena aku tahu, Engkau Maha Melihat segala detak ketulusan yang kubawa, melampaui segala angka dan data duniawi.
Selamat Hari Raya Idulfitri. Semoga Allah menerima semua amal dan ibadah kita.

.jpg)